Senin, 11 Mei 2026

PELAJARAN DARI KISAH 3 ORANG DALAM BERMAJLIS ILMU

 *PELAJARAN DARI KISAH 3 ORANG DALAM BERMAJLIS ILMU*


Abu Waqid Al Laitsi - rodhiyallahu 'anhu - berkata:


أنَّ رَسولَ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم بينَما هو جالِسٌ في المَسجِدِ والنَّاسُ معهُ إذ أقبَلَ ثَلاثةُ نَفَرٍ، فأقبَلَ اثنانِ إلى رَسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم وذَهَبَ واحِدٌ، قال: فوقَفا على رَسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، فأمَّا أحَدُهما فرَأى فُرجةً في الحَلقةِ فجَلَسَ فيها، وأمَّا الآخَرُ فجَلَسَ خَلفَهم، وأمَّا الثَّالِثُ فأدبَرَ ذاهِبًا، فلَمَّا فرَغَ رَسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم قال: ألا أُخبِرُكُم عَنِ النَّفَرِ الثَّلاثةِ؟ أمَّا أحَدُهم فأوى إلى اللهِ فآواه اللهُ، وأمَّا الآخَرُ فاستَحيا فاستَحيا اللهُ منه، وأمَّا الآخَرُ فأعرَضَ فأعرَضَ اللهُ عنه.


البخاري : 66


Bahwa ketika Rasulullah ﷺ sedang duduk di masjid bersama para sahabat, tiba-tiba datang tiga orang. Dua orang mendatangi Rasulullah ﷺ sedangkan satu orang pergi.


Perawi berkata: Keduanya lalu berdiri di hadapan Rasulullah ﷺ. Salah satu dari keduanya melihat ada celah kosong pada lingkaran majelis, maka ia duduk di tempat itu. Adapun yang lain duduk di belakang mereka. Sedangkan orang ketiga berpaling lalu pergi.


Ketika Rasulullah ﷺ selesai dari majelisnya, beliau bersabda:


“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang tiga orang tadi?

Adapun salah seorang dari mereka, ia mendekat dan berlindung kepada Allah, maka Allah melindungi dan mendekatkannya.

Yang lain merasa malu, maka Allah pun malu kepadanya.

Sedangkan yang terakhir berpaling, maka Allah pun berpaling darinya.”


(HR Bukhari : 66)


*PENJELASAN RINGKAS*


Nabi ﷺ adalah manusia yang paling baik dalam mengajar. Beliau mendidik para sahabat melalui berbagai peristiwa yang terjadi di hadapan mereka, serta memberikan perumpamaan agar jalan hidayah menjadi jelas dan agar mereka terbimbing kepada hal-hal yang memperbaiki urusan dunia dan akhirat.


Dalam hadits ini, Abu Waqid Al-Laitsi meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ sedang duduk bersama para sahabat di masjid, lalu datanglah tiga orang laki-laki.


Orang pertama menemukan celah kosong dalam halaqah majelis, lalu ia duduk di tempat itu.


Orang kedua duduk di belakang halaqah, seolah-olah ia malu untuk berdesakan dan mempersempit tempat orang lain.


Sedangkan orang ketiga berpaling dan tidak ikut menghadiri majelis tersebut.


Ketika Nabi ﷺ selesai dari pembicaraan beliau (berupa pengajaran Al-Qur’an, ilmu, dan semisalnya),beliau bersabda:


 *“Maukah aku kabarkan kepada kalian tentang tiga orang tadi?”*


Penjelasan Tiga Orang Tersebut :

1. Orang pertama

Ia mendekat kepada Allah, maka Allah pun memberinya tempat dan perlindungan.

Ia adalah orang yang duduk di celah kosong dalam majelis. Hal itu menunjukkan ketulusan niatnya untuk duduk bersama Nabi ﷺ. Maka Allah memudahkan baginya tempat dan kelapangan di majelis Nabi-Nya.

Sebagian ulama menjelaskan:

- Allah mendekatkannya kepada Nabi-Nya.

- Ada pula yang menafsirkan bahwa Allah akan menaunginya di bawah naungan Arsy-Nya.


2. Orang kedua

Ia merasa malu sehingga tidak berdesakan dengan orang lain 

- karena malu kepada Rasulullah ﷺ dan para sahabatnya.

- Ada pula yang menafsirkan bahwa ia tetap duduk di majelis karena malu meninggalkan majelis ilmu. 


Maka Allah pun “malu” kepadanya, yakni Allah memuliakan dan merahmatinya karena adab dan rasa malunya.


3. Orang ketiga

Ia berpaling dan menjauh dari majelis Nabi ﷺ, maka Allah pun berpaling darinya.

Artinya, Allah tidak memberinya taufik untuk duduk bersama kaum yang mulia dan suci tersebut.


*FAIDAH-FAIDAH HADITS*


1. Menetapkan sifat malu bagi Allah ﷻ dengan cara yang sesuai dengan keagungan-Nya, tidak sama dengan sifat malu makhluk.


2. Siapa yang mencari ilmu dan menghadiri majelis ilmu, Allah akan memberinya taufik dan pertolongan.


3. Siapa yang berpaling dari ilmu dan majelisnya, maka ia terancam dijauhkan dari rahmat dan taufik Allah.


4. Termasuk adab majelis adalah duduk di tempat yang didapati tanpa menyuruh orang lain berdiri dari tempatnya.


5. Seorang alim dianjurkan memulai menyampaikan ilmu sebelum ditanya.


6. Hadits ini menunjukkan keutamaan sifat malu dan pujian bagi orang yang memilikinya.


7. Hadits ini juga mengandung celaan bagi orang yang tidak menyukai ilmu, karena tidaklah seseorang terhalang dari ilmu Nabi ﷺ kecuali itu menunjukkan kurangnya kebaikan pada dirinya.


Sumber : www.dorar.net

Dengan pengawas Umum Syaikh 'Alawi Bin Abdulqodir As-Saqqof 


Penulis: Abine HuFaSya

Srandakan, 11 Mei 2026

DI BALIK PERPEDAAN ULAMA

 🫟✒️🖊️🫟✒️🖊️🫟✒️🖊️🫟✒️🖊️🫟✒️🖊️🫟✒️🖊️


*“DI BALIK PERBEDAAN PANDANGAN PARA ULAMA TERDAPAT HIKMAH-HIKMAH YANG TIDAK TERHITUNG JUMLAHNYA.”*


*PERTANYAAN* 


عندما نسأل عن حكم من الأحكام يكون الرد قال الشافعي وقال أحمد بن حنبل وقال مالك وقال أبو حنيفة وفي النهاية نخرج بأربعة أحكام لا ندري أيها نتبع فماذا نفعل؟


"Ketika kita bertanya tentang suatu hukum, seringkali jawabannya adalah: “Menurut Imam Asy-Syafi'i begini, menurut Imam Ahmad bin Hanbal begitu, menurut Imam Malik demikian, dan menurut Imam Abu Hanifah seperti ini.”


Akhirnya kita mendapatkan empat pendapat hukum dan tidak tahu mana yang harus diikuti. Lalu apa yang harus kita lakukan?


*JAWABAN*


Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah, kepada keluarga dan para sahabatnya. Amma ba‘du:


Tidak diragukan lagi oleh kaum Muslimin bahwa agama ini adalah agama Allah, dan syariat adalah syariat-Nya. Tidak ada yang dapat menolak hukum-Nya dan tidak ada yang dapat mengubah keputusan-Nya. Hukum-Nya adalah keadilan dan firman-Nya adalah ketetapan yang pasti. Barang siapa menyimpang dari agama Allah dan berhukum dengan selain syariat-Nya, maka ia termasuk dalam firman Allah:


“Barang siapa tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, maka mereka itulah orang-orang kafir.” (QS. Al-Māidah: 44)


Syariat Allah berlaku untuk setiap masa dan tempat. Hal ini karena di dalamnya terdapat unsur keberlangsungan dan kelanggengan, di antaranya sifat tetap (tsabat) dan fleksibel (murunah). Ia tetap dalam prinsip-prinsipnya, namun fleksibel dalam cabang-cabangnya. Allah berfirman:


 “Tidaklah Kami luputkan sesuatu pun dalam Al-Kitab.” (QS. Al-An‘ām: 38)


Seorang mujtahid yang meneliti akan menemukan hakikat yang jelas bahwa hukum-hukum syariat terbagi dalam dua lingkaran:


1. Lingkaran hal-hal yang pasti (qat‘iyyat)

Yaitu perkara yang menjadi hal-hal kesepakatan dan ijma‘, dan di bawahnya masuk banyak sekali masalah, termasuk persoalan-persoalan baru.


2. Lingkaran hal-hal zhanni (cabang/furu‘)

Inilah ruang fleksibilitas. Di sinilah para ulama berbeda pendapat sesuai dengan pemahaman mereka terhadap dalil, keluasan ilmu, dan karunia pemahaman dari Allah.


Hikmah dari perbedaan ini sangat jelas bagi orang yang berpandangan jernih, yaitu bahwa Allah menghendaki kemudahan bagi hamba-Nya. Jika suatu pendapat menyulitkan dalam kondisi tertentu, maka dapat diambil pendapat lain. Seandainya Allah menghendaki agar nash Al-Qur’an dan Sunnah hanya memiliki satu makna tanpa kemungkinan perbedaan, tentu hal itu tidak sulit bagi-Nya. Namun Allah memiliki hikmah dalam adanya perbedaan tersebut.


Imam Ibn Abd al-Barr menyebutkan dalam Jāmi‘ Bayan al-‘Ilm wa Faḍlihi bahwa Umar bin Abdul Aziz dan Al-Qasim bin Muhammad pernah berdiskusi tentang hadits. Umar bin AbdulAziz menyebutkan sesuatu yang berbeda dengan Al-Qasim bin Muhammad, sehingga Al-Qasim merasa tidak nyaman. Maka Umar bin Abdulaziz - rohimahullah - berkata:

“Jangan begitu, aku tidak suka jika aku memiliki unta merah (harta berharga) sebagai ganti dari perbedaan mereka.” (yakni beliau lebih memilih adanya perbedaan karena manfaatnya).


Karena kondisi para penanya berbeda-beda, terkadang mufti menyebutkan beberapa pendapat ulama agar bisa mencapai tujuan syariat yang agung, yaitu menghilangkan kesempitan dan kesulitan. Oleh karena itu, menyebutkan perbedaan pendapat dibolehkan. Bahkan sebagian ulama menyatakan bahwa mufti boleh memberi pilihan kepada penanya antara beberapa pendapat.


Di antara yang menyebutkan hal ini adalah Al-Buhuti dalam Syarh Muntaha al-Irodat.


Ibnu Taimiyyah - rohimahullah - berkata:

“Seorang hakim tidak boleh membatalkan keputusan hakim lain dalam masalah-masalah seperti ini. Dan seorang ulama atau mufti tidak boleh memaksa manusia untuk mengikuti pendapatnya.”


Ketika Harun al-Rashid meminta Imam Malik - rohimahullah - agar menjadikan kitab Al-Muwaṭṭa’ sebagai pegangan tunggal umat, beliau melarangnya dan berkata:

“Para sahabat Rasulullah ﷺ telah tersebar di berbagai negeri, dan setiap kaum telah mengambil ilmu sesuai yang sampai kepada mereka.”


Seorang pernah menulis buku tentang perbedaan pendapat, lalu Imam Ahmad bin Hanbal - rohimahullah - berkata:

“Jangan namakan ‘Kitab Ikhtilaf’, tetapi namakan ‘Kitab Kelonggaran’ (Kitab As-Sa‘ah).”


Sebagian ulama berkata:

“Kesepakatan mereka adalah hujjah yang pasti, dan perbedaan mereka adalah rahmat yang luas.”

Karena jika mereka sepakat lalu ada yang menyelisihi, maka ia tersesat. Namun jika mereka berbeda, lalu seseorang mengambil salah satu pendapat, maka ada kelonggaran.


Para imam selain Imam Malik juga mengatakan bahwa seorang faqih tidak boleh memaksa orang lain mengikuti mazhabnya.


Para ulama dalam bidang amar ma‘ruf nahi munkar dari kalangan Imam Asy-Syafi'i dan selainnya menyebutkan bahwa masalah ijtihadiyyah seperti ini tidak boleh diingkari dengan tangan (paksaan). Tidak boleh memaksa orang lain, tetapi cukup dengan penjelasan ilmiah.

Siapa yang jelas baginya kebenaran suatu pendapat, maka ia mengikutinya. Dan siapa yang mengikuti pendapat ulama lain, maka tidak boleh diingkari.


Di antara sebab mufti menyebutkan banyak pendapat adalah karena terkadang ia belum bisa memastikan mana yang lebih kuat, karena dalil-dalilnya seimbang. Metode ini telah digunakan oleh para ulama salaf.


Barang siapa menelaah kitab-kitab fatwa seperti fatwa Ibnu Taimiyyah, Imam An-Nawawi, Taj al-Din al-Subki, Al-Ramli, dan lainnya, maka akan mengetahui kebenaran hal ini.


Meskipun demikian, kami tetap berusaha meneliti setiap masalah dari berbagai sisi dengan mempertimbangkan dalil dan petunjuknya, berpegang pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah ﷺ, serta mengikuti pemahaman generasi terbaik umat ini, tanpa mengabaikan tujuan-tujuan syariat.


Dan kepada Allah kami memohon taufik dan petunjuk.


Sumber :

https://short-url.org/1phDB


✒️🎗️✒️🎗️✒️🎗️✒️🎗️✒️🎗️✒️🎗️✒️🎗️✒️🎗️

Jumat, 03 Oktober 2025

70.000 MASUK SURGA TANPA HISAB

 


*70.000 MASUK SURGA TANPA HISAB*


خَرَجَ عَلَيْنا النَّبيُّ ﷺ يَوْمًا فَقالَ: عُرِضَتْ عَلَيَّ الأُمَمُ، فَجَعَلَ يَمُرُّ النَّبيُّ معهُ الرَّجُلُ، والنَّبيُّ معهُ الرَّجُلانِ، والنَّبيُّ معهُ الرَّهْطُ، والنَّبيُّ ليسَ معهُ أحَدٌ، ورَأَيْتُ سَوادًا كَثِيرًا سَدَّ الأُفُقَ، فَرَجَوْتُ أنْ تَكُونَ أُمَّتِي، فقِيلَ: هذا مُوسى وقَوْمُهُ، ثُمَّ قيلَ لِي: انْظُرْ، فَرَأَيْتُ سَوادًا كَثِيرًا سَدَّ الأُفُقَ، فقِيلَ لِي: انْظُرْ هَكَذا وهَكَذا، فَرَأَيْتُ سَوادًا كَثِيرًا سَدَّ الأُفُقَ، فقِيلَ: هَؤُلاءِ أُمَّتُكَ، ومع هَؤُلاءِ سَبْعُونَ ألْفًا يَدْخُلُونَ الجَنَّةَ بغيرِ حِسابٍ. فَتَفَرَّقَ النّاسُ ولَمْ يُبَيَّنْ لهمْ، فَتَذاكَرَ أصْحابُ النَّبيِّ ﷺ فَقالوا: أمّا نَحْنُ فَوُلِدْنا في الشِّرْكِ، ولَكِنّا آمَنّا باللَّهِ ورَسولِهِ، ولَكِنْ هَؤُلاءِ هُمْ أبْناؤُنا، فَبَلَغَ النَّبيَّ ﷺ فَقالَ: هُمُ الَّذِينَ لا يَتَطَيَّرُونَ، ولا يَسْتَرْقُونَ، ولا يَكْتَوُونَ، وعلى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ. فَقامَ عُكّاشَةُ بنُ مِحْصَنٍ فَقالَ: أمِنْهُمْ أنا يا رَسولَ اللَّهِ؟ قالَ: نَعَمْ. فَقامَ آخَرُ فَقالَ: أمِنْهُمْ أنا؟ فَقالَ: سَبَقَكَ بها عُكاشَةُ.

الراوي: عبدالله بن عباس • البخاري، صحيح البخاري (٥٧٥٢) • [صحيح] • أخرجه مسلم (٢٢٠) باختلاف يسير 


Nabi ﷺ suatu hari keluar menemui kami lalu bersabda:

"Telah diperlihatkan kepadaku umat-umat (yang terdahulu). Maka aku melihat seorang nabi lewat bersama satu orang pengikutnya, nabi lain bersama dua orang, nabi lain bersama sekelompok kecil (raht), dan ada juga nabi yang tidak memiliki pengikut seorang pun.

Kemudian aku melihat suatu kerumunan besar yang memenuhi cakrawala. Aku berharap itu adalah umatku. Tapi dikatakan kepadaku: 'Itu adalah Musa dan kaumnya.'

Lalu dikatakan lagi kepadaku: 'Lihatlah!' Maka aku melihat lagi kerumunan besar yang memenuhi cakrawala. Kemudian dikatakan lagi: 'Lihat ke sana dan ke sana!' Maka aku melihat kerumunan besar yang memenuhi cakrawala.

Dikatakan kepadaku: 'Mereka itu adalah umatmu, dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang akan masuk surga tanpa hisab (perhitungan amal).'"

Maka orang-orang pun berpencar (usai mendengar itu), sementara Nabi ﷺ belum menjelaskan siapa mereka (70.000 itu). Para sahabat Nabi ﷺ kemudian saling mendiskusikan hal itu. Mereka berkata:

"Adapun kami, kami dilahirkan dalam keadaan syirik (masa jahiliah), tetapi kemudian kami beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Namun yang ini (generasi baru) adalah anak-anak kami (yang lahir dalam Islam).”

Lalu hal itu sampai kepada Nabi ﷺ, maka beliau bersabda:

"Mereka adalah orang-orang yang tidak bertathayyur (tidak merasa sial karena tanda-tanda tertentu), tidak meminta ruqyah, tidak melakukan pengobatan dengan besi panas (kay), dan mereka bertawakal kepada Rabb mereka."

Kemudian ‘Ukasyah bin Mihshan berdiri dan berkata:

"Wahai Rasulullah, apakah aku termasuk mereka?"

Beliau ﷺ menjawab: "Ya, kamu termasuk mereka."

Lalu berdiri orang lain dan berkata:

"Apakah aku juga termasuk mereka?"

Beliau ﷺ menjawab: "Ukasyah telah mendahuluimu."


Shahih al-Bukhari: 5752

Shahih Muslim: 220


*FAIDAH-FAIDAH HADITS*


1. Keutamaan Umat Nabi Muhammad ﷺ


- Umat beliau adalah umat terbanyak yang dilihat Nabi ﷺ sampai memenuhi cakrawala.


- Ini menunjukkan kemuliaan dan keberkahan dakwah beliau, serta bahwa umat ini memiliki potensi besar untuk mendapatkan rahmat Allah.


2. Ada 70.000 Orang Masuk Surga Tanpa Hisab


- Mereka akan masuk surga tanpa dihisab dan tanpa disiksa, langsung ke surga. Ini merupakan kemuliaan luar biasa yang menunjukkan tingginya derajat mereka di sisi Allah.


3. Ciri-ciri 70.000 Orang Itu


Nabi ﷺ menyebutkan empat ciri mereka:


- a. Tidak meminta diruqyah – artinya mereka tidak bergantung kepada makhluk, meskipun ruqyah itu boleh jika syar’i.

- b. Tidak bertathayyur – tidak percaya pada sial karena angka, binatang, arah, atau waktu tertentu. Mereka bebas dari kesyirikan kecil dan prasangka buruk.

- c. Tidak meminta untuk dikay – tidak meminta pengobatan dengan besi panas. Ini menunjukkan ketabahan dan kepercayaan penuh pada Allah.

- d. Bertawakal hanya kepada Rabb mereka – puncak keimanan. Mereka berserah diri total kepada Allah dalam urusan dunia dan akhirat.


📝 Catatan: 

- Bukan berarti ruqyah atau kay haram, tapi mereka yang tidak memintanya menunjukkan derajat tawakal yang sangat tinggi.


4. Tawakal adalah Kunci Masuk Surga Tanpa Hisab


- Tawakal sejati kepada Allah, tanpa bergantung kepada selain-Nya, menjadi sebab utama seseorang mencapai derajat tinggi ini.


- Hadits ini menunjukkan bahwa kesucian tauhid dan kebergantungan mutlak kepada Allah adalah jalan keselamatan.


5. Perlombaan dalam Kebaikan


‘Ukkasyah bin Mihshan cepat-cepat meminta agar termasuk dalam golongan tersebut, dan langsung dijawab “Ya” oleh Nabi ﷺ.


Ini menunjukkan bolehnya meminta kebaikan dunia dan akhirat kepada Allah, dan juga bersegera dalam amal shalih.


6. “Ukkasyah Telah Mendahuluimu”


- Ketika orang kedua meminta hal yang sama, Nabi ﷺ menjawab dengan kalimat ini, sebagai adab untuk menghindari keterusan permintaan serupa dari yang lain, bukan karena orang itu tidak layak.


Pelajaran: 

- Hikmah dalam memberi jawaban agar tidak memicu kericuhan atau tuntutan massal.


7. Nabi Menunjukkan Umat-umat Terdahulu


- Dalam hadits ini juga tergambar berbagai kondisi para nabi dan pengikut mereka, ada yang hanya punya sedikit pengikut, bahkan ada yang tidak punya pengikut sama sekali.


Pelajaran:

- Keberhasilan dakwah tidak diukur dari jumlah pengikut.


- Seorang dai atau guru tetap mendapat pahala selama dia telah menyampaikan kebenaran, meski tidak ada yang mengikuti.


8. Pentingnya Menjaga Kemurnian Tauhid


- Hadits ini menjadi motivasi besar untuk menjaga tauhid, menjauhi kesyirikan kecil, jimat, perdukunan, tathayyur, dan sejenisnya.


- Kesucian tauhid membawa kedudukan tinggi di akhirat.


9. Adanya Golongan Khusus di Surga


- Surga memiliki derajat-derajat dan kelompok-kelompok penghuni, dan hadits ini menggambarkan golongan elit di antara penghuni surga.


- Ini mendorong kita untuk berlomba meraih derajat tersebut.


Sumber : 

dorar.net


Juantara, S.Pd.

Yogyakarta, 11 Shofar 1447 H/ 06-08-2025M

PELAJARAN DARI KISAH 3 ORANG DALAM BERMAJLIS ILMU

 *PELAJARAN DARI KISAH 3 ORANG DALAM BERMAJLIS ILMU* Abu Waqid Al Laitsi - rodhiyallahu 'anhu - berkata: أنَّ رَسولَ اللهِ صلَّى اللهُ ع...