Jumat, 03 Oktober 2025

70.000 MASUK SURGA TANPA HISAB

 


*70.000 MASUK SURGA TANPA HISAB*


خَرَجَ عَلَيْنا النَّبيُّ ﷺ يَوْمًا فَقالَ: عُرِضَتْ عَلَيَّ الأُمَمُ، فَجَعَلَ يَمُرُّ النَّبيُّ معهُ الرَّجُلُ، والنَّبيُّ معهُ الرَّجُلانِ، والنَّبيُّ معهُ الرَّهْطُ، والنَّبيُّ ليسَ معهُ أحَدٌ، ورَأَيْتُ سَوادًا كَثِيرًا سَدَّ الأُفُقَ، فَرَجَوْتُ أنْ تَكُونَ أُمَّتِي، فقِيلَ: هذا مُوسى وقَوْمُهُ، ثُمَّ قيلَ لِي: انْظُرْ، فَرَأَيْتُ سَوادًا كَثِيرًا سَدَّ الأُفُقَ، فقِيلَ لِي: انْظُرْ هَكَذا وهَكَذا، فَرَأَيْتُ سَوادًا كَثِيرًا سَدَّ الأُفُقَ، فقِيلَ: هَؤُلاءِ أُمَّتُكَ، ومع هَؤُلاءِ سَبْعُونَ ألْفًا يَدْخُلُونَ الجَنَّةَ بغيرِ حِسابٍ. فَتَفَرَّقَ النّاسُ ولَمْ يُبَيَّنْ لهمْ، فَتَذاكَرَ أصْحابُ النَّبيِّ ﷺ فَقالوا: أمّا نَحْنُ فَوُلِدْنا في الشِّرْكِ، ولَكِنّا آمَنّا باللَّهِ ورَسولِهِ، ولَكِنْ هَؤُلاءِ هُمْ أبْناؤُنا، فَبَلَغَ النَّبيَّ ﷺ فَقالَ: هُمُ الَّذِينَ لا يَتَطَيَّرُونَ، ولا يَسْتَرْقُونَ، ولا يَكْتَوُونَ، وعلى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ. فَقامَ عُكّاشَةُ بنُ مِحْصَنٍ فَقالَ: أمِنْهُمْ أنا يا رَسولَ اللَّهِ؟ قالَ: نَعَمْ. فَقامَ آخَرُ فَقالَ: أمِنْهُمْ أنا؟ فَقالَ: سَبَقَكَ بها عُكاشَةُ.

الراوي: عبدالله بن عباس • البخاري، صحيح البخاري (٥٧٥٢) • [صحيح] • أخرجه مسلم (٢٢٠) باختلاف يسير 


Nabi ﷺ suatu hari keluar menemui kami lalu bersabda:

"Telah diperlihatkan kepadaku umat-umat (yang terdahulu). Maka aku melihat seorang nabi lewat bersama satu orang pengikutnya, nabi lain bersama dua orang, nabi lain bersama sekelompok kecil (raht), dan ada juga nabi yang tidak memiliki pengikut seorang pun.

Kemudian aku melihat suatu kerumunan besar yang memenuhi cakrawala. Aku berharap itu adalah umatku. Tapi dikatakan kepadaku: 'Itu adalah Musa dan kaumnya.'

Lalu dikatakan lagi kepadaku: 'Lihatlah!' Maka aku melihat lagi kerumunan besar yang memenuhi cakrawala. Kemudian dikatakan lagi: 'Lihat ke sana dan ke sana!' Maka aku melihat kerumunan besar yang memenuhi cakrawala.

Dikatakan kepadaku: 'Mereka itu adalah umatmu, dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang akan masuk surga tanpa hisab (perhitungan amal).'"

Maka orang-orang pun berpencar (usai mendengar itu), sementara Nabi ﷺ belum menjelaskan siapa mereka (70.000 itu). Para sahabat Nabi ﷺ kemudian saling mendiskusikan hal itu. Mereka berkata:

"Adapun kami, kami dilahirkan dalam keadaan syirik (masa jahiliah), tetapi kemudian kami beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Namun yang ini (generasi baru) adalah anak-anak kami (yang lahir dalam Islam).”

Lalu hal itu sampai kepada Nabi ﷺ, maka beliau bersabda:

"Mereka adalah orang-orang yang tidak bertathayyur (tidak merasa sial karena tanda-tanda tertentu), tidak meminta ruqyah, tidak melakukan pengobatan dengan besi panas (kay), dan mereka bertawakal kepada Rabb mereka."

Kemudian ‘Ukasyah bin Mihshan berdiri dan berkata:

"Wahai Rasulullah, apakah aku termasuk mereka?"

Beliau ﷺ menjawab: "Ya, kamu termasuk mereka."

Lalu berdiri orang lain dan berkata:

"Apakah aku juga termasuk mereka?"

Beliau ﷺ menjawab: "Ukasyah telah mendahuluimu."


Shahih al-Bukhari: 5752

Shahih Muslim: 220


*FAIDAH-FAIDAH HADITS*


1. Keutamaan Umat Nabi Muhammad ﷺ


- Umat beliau adalah umat terbanyak yang dilihat Nabi ﷺ sampai memenuhi cakrawala.


- Ini menunjukkan kemuliaan dan keberkahan dakwah beliau, serta bahwa umat ini memiliki potensi besar untuk mendapatkan rahmat Allah.


2. Ada 70.000 Orang Masuk Surga Tanpa Hisab


- Mereka akan masuk surga tanpa dihisab dan tanpa disiksa, langsung ke surga. Ini merupakan kemuliaan luar biasa yang menunjukkan tingginya derajat mereka di sisi Allah.


3. Ciri-ciri 70.000 Orang Itu


Nabi ﷺ menyebutkan empat ciri mereka:


- a. Tidak meminta diruqyah – artinya mereka tidak bergantung kepada makhluk, meskipun ruqyah itu boleh jika syar’i.

- b. Tidak bertathayyur – tidak percaya pada sial karena angka, binatang, arah, atau waktu tertentu. Mereka bebas dari kesyirikan kecil dan prasangka buruk.

- c. Tidak meminta untuk dikay – tidak meminta pengobatan dengan besi panas. Ini menunjukkan ketabahan dan kepercayaan penuh pada Allah.

- d. Bertawakal hanya kepada Rabb mereka – puncak keimanan. Mereka berserah diri total kepada Allah dalam urusan dunia dan akhirat.


📝 Catatan: 

- Bukan berarti ruqyah atau kay haram, tapi mereka yang tidak memintanya menunjukkan derajat tawakal yang sangat tinggi.


4. Tawakal adalah Kunci Masuk Surga Tanpa Hisab


- Tawakal sejati kepada Allah, tanpa bergantung kepada selain-Nya, menjadi sebab utama seseorang mencapai derajat tinggi ini.


- Hadits ini menunjukkan bahwa kesucian tauhid dan kebergantungan mutlak kepada Allah adalah jalan keselamatan.


5. Perlombaan dalam Kebaikan


‘Ukkasyah bin Mihshan cepat-cepat meminta agar termasuk dalam golongan tersebut, dan langsung dijawab “Ya” oleh Nabi ﷺ.


Ini menunjukkan bolehnya meminta kebaikan dunia dan akhirat kepada Allah, dan juga bersegera dalam amal shalih.


6. “Ukkasyah Telah Mendahuluimu”


- Ketika orang kedua meminta hal yang sama, Nabi ﷺ menjawab dengan kalimat ini, sebagai adab untuk menghindari keterusan permintaan serupa dari yang lain, bukan karena orang itu tidak layak.


Pelajaran: 

- Hikmah dalam memberi jawaban agar tidak memicu kericuhan atau tuntutan massal.


7. Nabi Menunjukkan Umat-umat Terdahulu


- Dalam hadits ini juga tergambar berbagai kondisi para nabi dan pengikut mereka, ada yang hanya punya sedikit pengikut, bahkan ada yang tidak punya pengikut sama sekali.


Pelajaran:

- Keberhasilan dakwah tidak diukur dari jumlah pengikut.


- Seorang dai atau guru tetap mendapat pahala selama dia telah menyampaikan kebenaran, meski tidak ada yang mengikuti.


8. Pentingnya Menjaga Kemurnian Tauhid


- Hadits ini menjadi motivasi besar untuk menjaga tauhid, menjauhi kesyirikan kecil, jimat, perdukunan, tathayyur, dan sejenisnya.


- Kesucian tauhid membawa kedudukan tinggi di akhirat.


9. Adanya Golongan Khusus di Surga


- Surga memiliki derajat-derajat dan kelompok-kelompok penghuni, dan hadits ini menggambarkan golongan elit di antara penghuni surga.


- Ini mendorong kita untuk berlomba meraih derajat tersebut.


Sumber : 

dorar.net


Juantara, S.Pd.

Yogyakarta, 11 Shofar 1447 H/ 06-08-2025M

PELAJARAN DARI KISAH 3 ORANG DALAM BERMAJLIS ILMU

 *PELAJARAN DARI KISAH 3 ORANG DALAM BERMAJLIS ILMU* Abu Waqid Al Laitsi - rodhiyallahu 'anhu - berkata: أنَّ رَسولَ اللهِ صلَّى اللهُ ع...